Kebenaran hanya milik Allah … yang demikian adalah hal yang diyakini segenap kaum muslimin. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi pada sejarah zaman jahiliah, di mana mereka menolak Islam karena kelemahan harta pengikutnya. Hal ini semakin memantapkan langkah kita dalam istiqomah di jalan-Nya.
Dalam hadits tentang kebenaran atau hadits tentang menyampaikan kebenaran dapat diketahui bahwa para pengikut kebenaran adalah mereka yang berasal dari rakyat biasa, adapun orang-orang kayanya tertahan dari mengikuti kebenaran.
Dan banyak orang miskin yang salah kaprah terhadap hadits yang zhahirnya menyebutkan keberuntungan bagi orang miskin. Padahal maknanya tawadhu. Tawadhu adalah sikap rendah hati yang dianjurkan syariat. Hal ini dapat diketahui dari hadits tentang tawadhu.
Dalam literatur peradaban Arab sebelum Islam atau kebudayaan Arab pra Islam menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak menerima Islam lantaran pengikutnya -siapa yang berjalan di atas Islam, itulah yang mereka nilai benar atau salahnya-
Kekuasaan dan kemewahan yang mereka terima bisa jadi suatu istidraj yang Allah datangkan bagi mereka. Istidraj adalah penundaan hukuman dari Allah kepada pelaku maksiat dengan memberikan beberapa nikmat yang kasat mata. Beda halnya antara istidraj dengan karamah. Karamah adalah keajaiban yang Allah berikan kepada wali-walinya.
Pemateri sedikit banyak menafsirkan hadits tentang kaum dhuafa dan tafsir miskin dalam Islam. Bagaimanakah maksud redaksi hadits yang benar hingga Nabi bersabda, “Ya Allah wafatkanlah aku dalam keadaan miskin.” Tahukah Anda tentang ciri ciri tawadhu pada seseorang?
Setelah seseorang menghiasi dirinya dengan tawadhu, ia hiasipula dengan perangai mulia yang lain yakni syukur dan sabar. Inilah hal yang mengungkap Islam agama yang benar. Dan kisah tawadhu orang shaleh jaman dahulu. Tawadhu itu pilihan.
Hidayah Allah memang mahal harganya. Namun berapa banyak yang menjemput hidayah tanpa ia duga sama sekali?!?
Hidayah adalah cahaya petunjuk yang disematkan kepada seseorang dengan jalan yang tak pernah diduga. Sebab hidup bukan sinetron. Manusia hanya berencana, sedangkan pilihan Allah itulah yang terbaik. Barangkali inilah jawaban dari doa-doa Anda selama ini. Sebuah doa mendapat hidayah.
Kebenaran hanyalah milik Allah, itulah Islam, itulah standar kebenaran mutlak. Salah satu cara menjemput hidayah yang paling efektif ialah mendengarkan ceramah. Apabila kita belum mengenal standar kebenaran ini (baca: Islam lengkap dengan dalilnya). Biasanya jiwa kecil ini akan berontak dan mencoba menghalau setiap pemahaman yang masuk. Yang demikian termasuk efek kontaminasi taqlid yang mendera. Sedangkan kita ketahui bahwa hukum taqlid adalah haram.
Mari kita menyibak hadits tentang kebenaran Islam dan menguliti pengertian jumud yang menghalangi langkah hidayah bagi seseorang. Dan mengusahakan untuk berittiba. Ittiba adalah suatu sikap mengikuti manhaj Rasulullah. Dan dahulu Rasulullah tak segan untuk mendakwahi para tokoh masyarakat di masanya.
Era jahiliyah ialah era keburukan yang melingkupi sebagian besar penduduknya. Sebagian mereka mengikuti pendapat mayoritas. Padahal banyak belum tentu benar, karena mengikuti kebanyakan manusia sesat bisa jadi, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Ceramah kali ini secara garis besar membahas azab Allah berupa azab dunia yang diterima oleh kaum musyrikin. Karena mereka menolak Islam agama yang benar dan mereka enggan menjemput hidayah yang terpampang di hadapan mereka. Dengan Allah datangkan Rasulullah di tengah-tengah mereka.
Inilah hadits tentang hidayah Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengenal tanda orang mendapat hidayah, berikut kisah orang mendapat hidayah Allah. Hidayah Allah mahal harganya, hidayah Allah berupa Islam yang terang, agama terbaik yang ada di muka bumi.
Islam adalah agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala dan salah satu pengertian Islam yang dikenal: Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. Mengenal Allah bisa dengan dua cara; melalui ayat-ayat syar’iyah dan ayat-ayat kauniyah. Kali ini, memasuki episode setelahnya yaitu Melestarikan Kepercayaan Nenek Moyang.
Nenek moyang ku bukan seorang pelaut, karena belum jelas literatur tentang hal ini. Dan tentunya kita tidak berdalam-dalam saat membahasnya. Maka ketahuilah bahwa agama para Nabi dan Rasul adalah Islam, ini pada asalnya. Dan dari hadits tentang menyampaikan kebenaran, kita mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul berupa risalah yang sama dari Rabbul Alamin.
Juga, hadits tentang menegakkan kebenaran di manapun berada. Di mana kita senantiasa diajak untuk mentauhidkan Allah dan larangan dari mensekutukan-Nya. Namun realitanya banyak yang kufur. Kufur adalah sikap pengingkaran terhadap ajaran Islam, hanya dikarenakan sombong misalnya. Dalam hadits tentang sombong disebutkan, “Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Menarik sekali saat kita simak hadits tentang kebenaran Islam yang selalu terjaga kemurniannya hingga akhir dunia hingga orang-orang baiknya diwafatkan oleh Allah melalui angin semilir yang melewati ketiak-ketiak mereka. Hakikat kebenaran ialah yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan perlu diketahui bahwa sumber ilmu pengetahuan dalam Islam ada dua yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Dalam hadits tentang jalan yang lurus disebutkan dalil tentang kebenaran berupa mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Inilah agama hanif yang dikenalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan menjadi hujjah yang nyata bagi mereka kaum musyrikin jahiliyah yang berhujjah dengan agama nenek moyang. Ibrahim menyembah Allah dan tidak berlaku syirik. Sedangkan mereka mewarisi kesyirika dari mana asal muasalnya?
Bisa jadi karena taqlid yang telah mengakar. Taqlid adalah mengikuti seseorang tanpa dalil. Lwan taqlid adalah ittiba’. Ittiba’ adalah mengikuti jalan Rasulullah dalam beragama. Hukum taqlid adalah haram. Taqlid berasal dari ke jumud an berpikir seseorang. Wallahu waliyut taufiq.
Ada apa gerangan dengan larangan mencela angin? Ternyata akhlak madzmumah ini telah mendarah daging pada orang-orang jahiliyah sebelum Islam merengkuh mereka ke dalam kedamaian. Disebutkan dalam hadits tentang menghina ciptaan Allah dan hadits larangan mencela secara umum. Bahwasanya ada di antara mereka yang mencela nasab seseorang, mencela fisik, dan lain sebagainya.
Adapun Islam datang sebagai petunjuk. Saat angin bertiup kencang, Islam menganjurkan umatnya untuk mengadu kepada Allah. Dengan kata lain; berlindung hanya kepada Allah. Cara meredakan angin kencang, bukan dengan mendatangkan pawang hujan sebagaimana masyhur di sebagian tempat. Akan tetapi, disyariatkan untuk dzikir ketika angin kencang terjadi. Usah berdalam-dalam untuk mengetahui penyebab angin kencang. Sebab, sudah ada ahlinya di bagian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Setelah kita mengetahui penyebabnya secara indrawi, maka langkah selanjutnya adalah memperkuat tawakal kita. Tawakal adalah memasrahkan segala urusan kepada Allah semata. Tawakal dan ikhtiar seiring sejalan. Manfaat bertawakal yang paling sederhana ialah seseorang menjadikan hatinya tenang dengan penjagaan Allah atas dirinya. Inilah yang kelak mengokohkan tauhid seseorang. Tauhid adalah mengesakan Allah di dalam peribadatan. Yang demikian termasuk arti tauhid yang dikenal penyebutannya.
Sudahkah Anda menghafal doa angin kencang (maksudnya: doa saat ada angin kencang / doa ketika angin kencang)? Di dalam doa tersebut terdapat doa permohonan kepada Allah agar memberikan yang terbaik bagi segenap hamba-Nya. Waktu dalam Islam adalah bekal terbaik yang semestinya diisi dengan kebaikan, dan bukan diisi dengan celotehan yang kurang berfaedah. Waktu adalah pedang, sebab ia tak akan kembali berulang. Ingatlah, bila ada angin kencang; taawudz / berlindung kepada Allah dan berdoa dengan doa yang disyariatkan.
Memasuki hukum syara’ yang kedua yakni hukum mandub. Dari sini kita ketahui hal hal yang bukan mandub, seperti mubah. Mubah adalah hal yang tidak mengapa untuk dilakukan, tidak mendatangkan pahala maupun dosa. Contoh mubah yang paling mudah ialah rehat sejenak tidak melakukan amalan akhirat maupun dunia. Dari pengertian mubah di atas, kita mengetahui definisi mubah. Jadi, tidak perlu kita bertanya; apa itu mubah atau mubah artinya ini dan itu.
Mandub adalah segala sesuatu yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan siksa. Nama lain mandub yaitu sunnah, mustahab, nawafil, dan tathawu’. Dan tiap istilah mempunyai pengertian yang sedikit berbeda. Adapun pengertian makruh (makruh adalah), pengertian mubah (mubah artinya) … insya Allah akan dibahas pada sesi setelahnya. Macam macam hukum taklifi itu ada rinciannya, demikian halnya contoh sunnah.
Terkait dengan pengertian haram dan contoh haram lighairihi ada pada topik berikutnya (jadi harap bersabar … urut menyimak satu demi satu bahasannya). Sedangkan perkara makruh, semoga tidak kita kerjakan karena tidak ada pilihan. Contoh hukum taklifi yang kita kenal ialah pelaksanaan dari rukun Islam yang lima. Dan mengetahui pengertian wajib akan mampu membedakan mana pengertian haram. Tahrim adalah hal hal yang mahzhur / mamnu’ yakni hal-hal yang dillarang oleh syariat dan harus ditinggalkan.
Pembagian hukum syara yang disampaikan oleh Ustadz Resa Gunarsa hafizahullah dalam menerangkan sejarah perkembangan ushul Fiqh pada unsur hukum, objek hukum, yang tertuang dalam kaidah ushul fiqh yang darinya kita mengenal jenis jenis hukum dan pengertian ibahah yang tentunya berbeda jauh dengan mandub.
Memasuki poin setelahnya … Masail Jahiliyah yang kita kaji, semakin menarik untuk terus dibahas dan diulang-ulang penyebutannya. Kali ini masih ada hubungannya dengan poin sebelum ini yaitu taklid. Lawan dari taklid adalah ittiba. Ittiba adalah mengikuti apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sifatnya ta’abuddiyah. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat jahiliyah berdalil dengan mayoritas. Apa yang diyakini kebanyakan orang, maka itulah yang benar!
Tidak bisa kita contohkan (contoh perbedaan pendapat ilmiah) dalam bab ini, sebab yang dimaksudkan ialah beda pendapat dalam hal yang prinsipil yaitu bab agama. Kali ini, kita akan mengupas tuntas perihal pengertian taqlid dan teori kebenaran menurut Islam yang banyak diselisihi masyarakat jahiliyah pada masa lampau. Taqlid adalah upaya seseorang bertahan dengan keyakinan yang dianutnya tanpa disertai ilmu.
Teori mayoritas adalah kebenaran, sangat berseberangan dengan apa yang diungkapkan oleh Al-Qur’an (baca: sebab mengikuti kebanyakan manusia sesat ujungnya). Demikian halnya dengan hadits tentang kebenaran. Semuanya menunjukkan bahwa kesyirikan bukanlah agama, melainkan noda yang merusak citra agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bagaimana kita mengetahui ini benar dan ini salah? Maka jawabannya ialah dengan mendekat dengan ilmu agama. Kita kenali ciri ciri ilmu yang datangnya dari Rasulullah yang dikenal dengan hadits.
Dan dalam pembahasan ini masih menyoal pengertian jumud. Jumud ialah kebekuan dalam bab berpikir, hal ini masuk ke dalam ranah ijtihad (biasanya). Akan tetapi dalam tema kita ialah jumud dalam menerima kebenaran Islam. Cara melawan jumud ialah dengan ittiba rasul. Ittiba Rasul adalah mengikuti setiap keyakinan, ucapan, dan perbuatan Rasululullah yang bersifat ibadah. Dan sampai bab ini, tentunya Anda sudah mengetahui tentang hukum taqlid, apabila hujjah telah ditegakkan.
Hujjah adalah argumen yang disampaikan kepada seseorang yang didakwahi. Sedangkan khilafiyah adalah perbedaan pendapat yang dilakukan oleh para ulama. Hujjah berasal dari wahyu. Fungsi wahyu ialah membenarkan risalah. Wahyu menurut Islam datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masih kita ulang kembali, sejarah zaman jahiliyah. Di mana padanya kita dapati orang yang mengenal Allah telah mencampurnya dengan kesyirikan kecuali orang yang dirahmati oleh-Nya.
Adakah Anda ingat bahwa agama para Nabi dan Rasul itu satu; menyerukan beribadahlah kepada Allah dan jauhilah kesyirikan. Dan salah satu penyebab kesesatan ialah berbicara tanpa ilmu.
Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumbernya. Dan hal ini laris manis di tengah-tengah manusia. Padahal Islam melarang taqlid, oleh karena itu Katakan Tidak Untuk Taklid! Taklid merupakan penyakit umat. Apabila kita menilik pengertian taqlid yang didefinisikan oleh para ulama, maka akan kita ketahui lawan dari taklid adalah ittiba. Ittiba adalah suatu keadaan mengikuti Rasulullah baik itu keyakinan, perbuatan, dan amalan.
Hukum taqlid itu haram. Dan arti taqlid yang dimaksudkan ialah taqlid mengikuti suatu pendapat tanpa dasar sama sekali. Jika mengikuti dalil, maka hal tersebut disebut ittiba. Apalagi setelah tegaknya hujjah bagi seseorang, maka tidak ada taqlid pada seseorang. Hujjah artinya argumen (baca: dalil). Saat ini pemateri membawakan materi yang bersumber dari makalah taqlid yang disarikan dari Masail Jahiliyah. Di dalamnya dibahaspula tentang pengertian jumud, dan apa itu jumud?
Zaman jahiliyah adalah zaman di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diutus. Sejarah zaman jahiliyah menyisakan kenangan pahit bagi pelaku sejarahnya. Ada di sana yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya, memperjualbelikan istrinya, makan harta haram, dan lain sebagainya. Dan hal ini berbeda dengan apa yang disebut dengan jahiliyah modern yang dihembuskan oleh para pengusung “tidak ada hukum selain hukum Allah” (baca: salah tafsir).
Ittiba Rasul adalah suatu amalan yang hukumnya wajib, maka bagaimana seseorang dikatakan cinta Rasul, apabila ia tidak mau ittiba kepadanya? Dalam berittiba, kita mengenal apa itu agama Islam secara hakiki, bukan sekedar definisi. Dan dengan berittiba, kita mengenal seluk beluk sekaligus bahaya syirik. Subhanallah, indahnya Islam … Islam memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu dan hal ini secara luas dapat ditelusuri dari keutamaan menuntut ilmu berikut hadits tentang mengikuti sunnah.
Dari berittiba, kita mengenal lawannya yakni bidah (bid’ah). Bidah adalah perbuatan baru di dalam agama dan definisi yang bagus ialah yang disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah. Bidah hasanah atau bidah sayyiah, keduanya sama-sama tercela secara hakikat, meski secara bahasa tidak demikian. Dengan berittiba, kita mengenal kebenaran Islam (yang berasal dari hadits tentang agama Islam) dan bukti Islam agama yang benar di alam semesta ini.
Apa itu tauhid dalam Islam? Pengertian tauhid adalah membuat sesuatu menjadi satu. Ini merupakan arti tauhid atau makna tauhid secara bahasa. Sementara definisi tauhid secara istilah, tauhid artinya mengimani keberadaan Allah, mengesakan Allah dengan rububiyah dan uluhiyahnya, dan beriman kepada seluruh nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Sobat Yufid sudah mengetahui tauhid ada berapa? Jenis jenis tauhid ada 3, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma wa Sifat. Di samping itu, pentingnya tauhid kepada Allah menjadikan dakwah tauhid sebagai inti dakwah para nabi dan rasul.
Oleh karena itu, kita wajib belajar ilmu tauhid sekaligus memprioritaskan tauhid daripada selainnya. Dengan belajar tauhid yang benar, insyaallah kita akan mendapatkan berbagai keutamaan tauhid dan manfaat tauhid.
Kita juga bisa mendakwahkan tauhid dengan contoh tauhid materi tauhid yang pernah kita pelajari.
Yuk, simak selengkapnya dalam video Yufid EDU yang menarik berikut ini!