Melestarikan Kepercayaan Nenek Moyang (Masail Jahiliyah, Eps. 07) – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Islam adalah agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala dan salah satu pengertian Islam yang dikenal: Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. Mengenal Allah bisa dengan dua cara; melalui ayat-ayat syar’iyah dan ayat-ayat kauniyah. Kali ini, memasuki episode setelahnya yaitu Melestarikan Kepercayaan Nenek Moyang.

Nenek moyang ku bukan seorang pelaut, karena belum jelas literatur tentang hal ini. Dan tentunya kita tidak berdalam-dalam saat membahasnya. Maka ketahuilah bahwa agama para Nabi dan Rasul adalah Islam, ini pada asalnya. Dan dari hadits tentang menyampaikan kebenaran, kita mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul berupa risalah yang sama dari Rabbul Alamin.

Juga, hadits tentang menegakkan kebenaran di manapun berada. Di mana kita senantiasa diajak untuk mentauhidkan Allah dan larangan dari mensekutukan-Nya. Namun realitanya banyak yang kufur. Kufur adalah sikap pengingkaran terhadap ajaran Islam, hanya dikarenakan sombong misalnya. Dalam hadits tentang sombong disebutkan, “Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Menarik sekali saat kita simak hadits tentang kebenaran Islam yang selalu terjaga kemurniannya hingga akhir dunia hingga orang-orang baiknya diwafatkan oleh Allah melalui angin semilir yang melewati ketiak-ketiak mereka. Hakikat kebenaran ialah yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan perlu diketahui bahwa sumber ilmu pengetahuan dalam Islam ada dua yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Dalam hadits tentang jalan yang lurus disebutkan dalil tentang kebenaran berupa mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Inilah agama hanif yang dikenalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan menjadi hujjah yang nyata bagi mereka kaum musyrikin jahiliyah yang berhujjah dengan agama nenek moyang. Ibrahim menyembah Allah dan tidak berlaku syirik. Sedangkan mereka mewarisi kesyirika dari mana asal muasalnya?

Bisa jadi karena taqlid yang telah mengakar. Taqlid adalah mengikuti seseorang tanpa dalil. Lwan taqlid adalah ittiba’. Ittiba’ adalah mengikuti jalan Rasulullah dalam beragama. Hukum taqlid adalah haram. Taqlid berasal dari ke jumud an berpikir seseorang. Wallahu waliyut taufiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *