Category :

Kalimat Laa ilaaha illallah ini memiliki faidah yang sangat besar, dan bisa jadi tidak berfungsi manakala tidak terpenuhi syarat-syaratnya.

Kalimat ini adalah kunci Surga. Dan kunci tidak bisa dipakai kecuali yang memiliki gerigi. Gerigi itu ada tujuh:

al-ilmu (berilmu), al-yaqin (yakin), al-ikhlas (ikhlas), ash-shidqu (jujur), al-inqiyad (tunduk), al-mahabbah (cinta), dan al-qabul (menerima).

Jika ada yang bertanya, “Darimana ketujuh syarat ini? Maka jawabnya adalah dari hasil istiqra’ (telaah nash-nash yang ada).” Maka tidak bisa dikatakan bid’ah, sebagaimana tidak ada orang yang mengingkari adanya ilmu nahwu dan sharaf!

Masih melanjutkan pembahasan sebelumnya terkait makna dan syarat-syarat Laa ilaaha illallah. Setelah kita membahas maknanya dan mengenal makna-makna yang keliru. Kali ini, kita akan memfokuskan kepada syarat-syarat Laa ilaaha illallah.

Kalimat Laa ilaaha illallah adalh kalimat yang agung, yang mana Allah Subhanahu wa Taala menciptakan Jin dan Manusia dalam rangka mewujudkannya. Untuk kalimat ini, Allah Ta’ala mengutus para Nabi dan Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan untuk kalimat ini Allah mengadakan Surga dan Neraka. Juga, karena kalimat ini seseorang bisa dikatakan kafir atau muslim!

Asy-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad berkata, Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberi anda petunjuk kepada ketaatan dan taufiq untuk mencintai Allah, bahwa kalimat yang paling agung dan paling bermanfaat adalah kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah”. Ia adalah sebuah ikatan yang kuat dan ia juga merupakan kalimat taqwa. Ia juga merupakan rukun agama dan cabang keimanan yang paling utama. Ia juga merupakan jalan kesuksesan meraih surga dan keselamatan dari api neraka …” (http://al-badr.net/muqolat/2575, alih bahasa: Ust. Yulian Purnama)

Tema pembahasan al-Wajibat kali ini akan menyajikan tentang syarat-syarat, makna-makna, dan dalil-dalil dari kalimat Laa ilaaha illallah. Simak yuk!

Melanjutkan pembahasan sebelumnya ashluddin (pokok agama). Pokok agama dan kaidahnya ada dua:

1. Perintah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata Mengajak, menyemangati, menganjurkan, mendorong agar manusia semata-mata hanya beribadah kepada Allah (Tauhidullah), membangun loyalitas kepada ahli tauhid dan mengkafirkan orang yang meninggalkan tauhid.

2. Memperingatkan dari kesyirikan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. kemudian bersikap keras terhadap perbuatan syirik dan (3) mengadakan permusuhan terhadap syirik dan pelakunya, (4) dan mengkafirkan para pelaku syirik.

Tidak akan sempurna tauhid, kecuali dari memperingatkan akan bahaya syirik. Totalitas dalam meninggalkan syirik.

Memasuki pembahasan kedua yakni pokok agama dan kaidahnya. Pokok agama ini dua: Dikatakan ashl, maknanya adalah akar, atau posisi yang paling bawah yang dibangun di atasnya yang lain. Maka jika diperumpamakan sebagai sebuah pohon, maka ia adalah akar. Atau jika ia adalah rumah, maka ia adalah pondasinya.

Dikatakan ashluddin (pokok agama), artinya semua bangunan agama dibangun di atas pokok ini. Maka hilangnya perkara ini, hancurlah agama seseorang.

Pada poin ketiga ini, kita mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apabila Anda ditanya, “Siapakah Nabimu?”
Maka jawablah, “Nabiku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib al-Hasyimi al-Quraisy.

Dalam kalimat yang singkat ini, beliau mengenalkan tentang nama dan nasab. Nama Muhammad artinya yang terpuji, sebuah nama yang belum ada sebelumnya. Sedangkan dari sisi keturunan, beliau berasal dari nasab yang baik. Yang mana sampai kepada Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Nabi dengan turunnya surat al-Alaq dan diangkat menjadi Rasul dengan surat Mudatstsir. Selama 13 tahun, beliau membina Tauhid di tengah-tengah umat.

Pembahasan kita pada kitab al-Wajibat masuk kepada pembahasan pertama, yakni Ushul Tsalatsah. Di sana disebutkan beberapa pertanyaan:

-Siapakah Rabbmu? Maka jawablah, Rabbku adalah Allah, Rabbku dan Rabb seluruh alam dengan nikmat-Nya dan tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia.

-Apa agamamu? Maka jawablah, Agamaku adalah Islam.
Islam adalah berserah diri dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan (totalitas dalam menerima syari’at), dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Definisi ini adalah islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Pembahasan yang pertama adalah al-Ushul Tsalatsah, yakni mengenal Allah, mengenal agama, dan mengenal Rasulullah.

Apabila Anda ditanya, “Siapakah Rabbmu?” Maka Jawablah, “Rabbku adalah Allah, Allah adalah Rabbku dan Rabbnya seluruh alam, yang mana Allah pelihara alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya ….” Bagaimana detailnya? Simak yuk sama-sama …

Inilah perkara yang mendasar dalam bab akidah, yang mana tidak ada udzur bila setiap muslim tidak mengetahuinya. Karena perkaranya bersesuaian dengan fitrah. Apa sajakah itu?

Memulai pelajaran baru dalam bab Akidah, kita melanjutkan dengan membahas kitab “al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifat ‘ala kulli Muslim wa Muslimatin” (Beberapa Kewajiban yang Harus Diketahui Oleh Setiap Muslim dan Muslimah).