Category : Video

Pembahasan kita pada kitab al-Wajibat masuk kepada pembahasan pertama, yakni Ushul Tsalatsah. Di sana disebutkan beberapa pertanyaan:

-Siapakah Rabbmu? Maka jawablah, Rabbku adalah Allah, Rabbku dan Rabb seluruh alam dengan nikmat-Nya dan tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia.

-Apa agamamu? Maka jawablah, Agamaku adalah Islam.
Islam adalah berserah diri dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan (totalitas dalam menerima syari’at), dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Definisi ini adalah islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Pembahasan yang pertama adalah al-Ushul Tsalatsah, yakni mengenal Allah, mengenal agama, dan mengenal Rasulullah.

Apabila Anda ditanya, “Siapakah Rabbmu?” Maka Jawablah, “Rabbku adalah Allah, Allah adalah Rabbku dan Rabbnya seluruh alam, yang mana Allah pelihara alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya ….” Bagaimana detailnya? Simak yuk sama-sama …

Inilah perkara yang mendasar dalam bab akidah, yang mana tidak ada udzur bila setiap muslim tidak mengetahuinya. Karena perkaranya bersesuaian dengan fitrah. Apa sajakah itu?

Memulai pelajaran baru dalam bab Akidah, kita melanjutkan dengan membahas kitab “al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifat ‘ala kulli Muslim wa Muslimatin” (Beberapa Kewajiban yang Harus Diketahui Oleh Setiap Muslim dan Muslimah).

Bid’ah termasuk penyakit yang sudah kadung menjalar di tengah umat. Definisi hukum bid’ah telah banyak dipaparkan dalam kitab-kitab rujukan ulama Ahlussunnah waljamaah. Bid’ah itu apa? Oh, iya … bid’ah cinta itu ya? Atau Bid’ah Cinta full movie? Hmm … bagi teman-teman zaman now bisa jadi paham apa itu bid’ah cinta. Akan tetapi bid’ah yang kita maksudkan dalam kajian ini adalah bid’ah dholalah yang diperingatkan oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Man ahdasa fi amrina … dan Man amila amalan laisa ‘alaihi amruna … ila akhiril hadits.”

Jadilah seorang yang cerdas lagi faqih, yang mampu membedakan contoh perbuatan mubah dan bid’ah zaman nabi; apa itu bid’ah hasanah; bid’ah aqidah yang merusak umat; bahkan bisa merusak tauhid, merusak akidah seseorang. Jika ada yang bertanya, “Bid’ah ada berapa; contoh bid’ah; pengertian pelaku bid’ah; macam macam hukum bid’ah; bid’ah dholalah fi nar; bid’ah menurut 4 imam mazhab; dalil bid’ah; khurafat; thoghut; amalan bid’ah …. maka kita kembalikan kepada kitab ini (salah satu di antara caranya) atau melalui video ini dari Episode pertama hingga akhir … Semoga apa yang kami sajikan bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun Anda.

Khurafat telah menyebar di mana-mana, apalagi contoh bidah yang makin hari makin banyak dan jauh dari tuntunan agama. Apa yang Anda ketahui tentang bidah hasanah? bid’ah hasanah adalah perkara yang dianggap baik dalam agama. Di antara amalan bidah yang tercantum dalam makalah bid’ah hanyalah sebagian saja (dikelompokkan berdasarkan yang sering terjadi). Sebut saja contoh bid’ah dalam shalat (ada usholli sebelum shalat, membaca muawidzatain sebelum takbir, dll).

Dalil bid’ah yang paling kentara ialah bid’ah dholalah finnar, inilah rumus bid ah yang paling mudah dipahami; setiap kesesatan tempatnya adalah neraka, dan setiap perkara baru dalam agama yang bertujuan untuk ibadah maka hal itu termasuk bid’ah. Di antara contoh bid’ah sayyiah ialah adanya peringatan hari lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah kaidah Islam secara umum yang menerangkan bid’ah menurut aswaja.

Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-17 ini kita masih membahas tentang bukti-bukti atau data-data yang menunjukkan adanya “Kreativitas dalam Ibadah Mutlak”.

Betapa banyak orang yang terjatuh ke dalam bid’ah karena memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal sama sekali mereka tidak memahami metode ijtihad yang benar. Sehingga ia memahami mengenai dalil ijtihad atau dasar hukum ijtihad tidak sebagaimana semestinya. Maka sungguh mereka telah melakukan bentuk ijtihad yang keliru.

Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.

Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)

Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.

Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).

Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.

Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.

Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.

Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani.

Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, pembagian bidah menurut aswaja, contoh bidah, dan masih banyak lagi.

Sudah tahu bukti-bukti atau data-data yang menunjukkan adanya “Kreativitas dalam Ibadah Mutlak” tersebut?

Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.

Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-17 ini kita masih membahas tentang bukti-bukti atau data-data yang menunjukkan adanya “Kreativitas dalam Ibadah Mutlak”.

Betapa banyak orang yang terjatuh ke dalam bid’ah karena memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal sama sekali mereka tidak memahami metode ijtihad yang benar. Sehingga ia memahami mengenai dalil ijtihad atau dasar hukum ijtihad tidak sebagaimana semestinya. Maka sungguh mereka telah melakukan bentuk ijtihad yang keliru.

Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.

Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)

Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.

Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).

Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.

Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.

Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.

Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani.

Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, pembagian bidah menurut aswaja, contoh bidah, dan masih banyak lagi.

Sudah tahu bukti-bukti atau data-data yang menunjukkan adanya “Kreativitas dalam Ibadah Mutlak” tersebut?

Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.

Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-16 ini kita akan membahas tentang sikap manusia berkenaan dengan pembatasan dalam dataran praktik ibadah-ibadah yang mutlak.

Betapa banyak orang yang terjatuh ke dalam bid’ah karena memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal sama sekali mereka tidak memahami metode ijtihad yang benar. Sehingga ia memahami mengenai dalil ijtihad atau dasar hukum ijtihad tidak sebagaimana semestinya. Maka sungguh mereka telah melakukan bentuk ijtihad yang keliru.

Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.

Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)

Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.

Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).

Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.

Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.

Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.

Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani.

Bagaimana bidah dalam Islam itu? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, pembagian bidah menurut aswaja, contoh bidah, dan masih banyak lagi.

Apa saja amalan-amalan yang dilakukan berdasarkan ijtihad tersebut?

Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.

Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-16 ini kita akan membahas tentang sikap manusia berkenaan dengan pembatasan dalam dataran praktik ibadah-ibadah yang mutlak.

Betapa banyak orang yang terjatuh ke dalam bid’ah karena memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal sama sekali mereka tidak memahami metode ijtihad yang benar. Sehingga ia memahami mengenai dalil ijtihad atau dasar hukum ijtihad tidak sebagaimana semestinya. Maka sungguh mereka telah melakukan bentuk ijtihad yang keliru.

Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.

Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)

Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.

Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).

Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.

Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.

Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.

Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani.

Bagaimana bidah dalam Islam itu? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, pembagian bidah menurut aswaja, contoh bidah, dan masih banyak lagi.

Apa saja amalan-amalan yang dilakukan berdasarkan ijtihad tersebut?

Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.

Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-15 ini kita akan membahas tentang amalan-amalan yang dilakukan berdasarkan ijtihad.

Betapa banyak orang yang terjatuh ke dalam bid’ah karena memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal sama sekali mereka tidak memahami metode ijtihad yang benar. Sehingga ia memahami mengenai dalil ijtihad atau dasar hukum ijtihad tidak sebagaimana semestinya. Maka sungguh mereka telah melakukan bentuk ijtihad yang keliru.

Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.

Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)

Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.

Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).

Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.

Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.

Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.

Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani.

Bagaimana bidah dalam Islam itu? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, pembagian bidah menurut aswaja, contoh bidah, dan masih banyak lagi.

Apa saja amalan-amalan yang dilakukan berdasarkan ijtihad tersebut?

Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.

1 289 290 291 292 293 334