Category : Video

Awas!!! Anda tentu tidak mau pahala yang telah diraup, pahalanya hangus tidak tersisa. Hanya karena tidak suka menjalankan syariat (maksudnya, ia melaksanakan salah satu syariat, tapi di dalam hatinya menyembunyikan ketidaksukaan / benci). Hal tersebut bisa mengantarkan kepada malas dalam beribadah.

Kitab al-Wajibat kali ini membahas pembatal keislaman yang lainnya. Sebuah perkara yang lazim pada orang munafik, selayaknya tidak menjangkiti kaum muslimin. Adanya syari’at puasa, haji, adanya perintah dan larangan, bukan tanpa maksud yang berarti. Melainkan padanya ada hikmah bagi segenap hamba-Nya yang beriman.

Pembatal keislaman kelima: Barangsiapa membenci sebagian yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meski ia mengamalkannya.

Seorang muslim bisa dipastikan mencintai Allah dan Rasulnya. Tidaklah membenci Islam kecuali orang-orang kafir dan munafik! Disebutkan dalam banyak ayat dan hadits bahwa kaum muslimin amat sangat cintanya kepada Allah. Demikian pula Rasulullah menegaskan untuk mencintai dirinya lebih dari siapapun.

cinta islam selamanya, suguhkan cinta terbaik, cinta yang sejati, dan bukan cinta hanya sekali tapi berkali-kali. Membenci sebagian ajaran Islam, bukan termasuk membenci karena Allah. Bahkan Allah murka karenanya. Membenci dalam Islam ada aturannya, bukan sembarangan … maka bagaimana bisa orang membenci agamanya sendiri?!?

Pembatal islam selanjutnya adalah meninggalkan hukum atau syariat Allah. Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa selain petunjuk selain petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau hukum selain hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti orang yang lebih mengutamakan hukum thogut daripada hukum Allah maka dia telah kafir atau batal keislamannya.

Bagaimana pembahasan selanjutnya?.

Simak video Yufid Edu kajian kita al-Wajibat bab pembatal keislamanan atau nawaqidul islam Meninggalkan Hukum Allah (al-Wajibat 22) bersama Ustadz Afifi Abdul Wadud.

Diantara pembatal islam atau keislaman seseorang adalah seorang muslim tidak mengkafirkan orang musyrikin atau ragu dengan kafirnya orang musyrik atau membenarkan aqidah atau manhaj orang-orang kafir. Maka tanpa disadari orang tersebut telah batal keislamannya. Bagaimana pembahasan nawaqidul islam atau pembatal keislaman dalam kitak al-wajibat?

Perantara dalam berdo’a (tawasul) menjadi makin populer di dunia Islam, mengapa? Karena kerap didapati orang-orang yang notabene shalih melakukannya. Benarkah demikian? Apakah yang dimaksud dengan tawasul? Tawasul adalah Tawasul diambil dari kata wasilah yang berarti segala hal yang diperintahkan di dalam al-Qur-an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu berupa amal ketaatan yang disyari’atkan.

Kitab al-Wajibat kali ini, telah sampai kepada Nawaqidh al-Islam (Pembatal-Pembatal Keislaman) yang dibawakan oleh ustadz Afifi Abdul Wadud. Melalui chanel Yufid Edu ini pembatal Islam yang kedua dibahas dari sekian pembatal keislaman yang ada. Masuk di sini pembahasan syafa’at, berdo’a, dan bertawakal kepada selain Allah. Macam-macam kesyirikan, bentuk kesyirikan, kesyirikan di abad modern, dan perkara ahli tauhid di akhir zaman …. semuanya satu persatu disajikan. Selamat menyimak!

Syirik yang paling besar adalah syirik dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Dan syirik termasuk dosa besar diantara dosa besar yang lainnya. Syirik dalam beribadah kepada Allah adalah syirik yang paling banyak menimpa kaum muslimin. Terlebih saat ini dizaman fitnah ini.

Syirik yang menyebabkan islam seseorang batal keislamannya ada beberapa macam diantaranya, pembatal islam qouliyah (perkataan), perbuatan dan keyakinan.

Sepuluh pembatal keislaman yang seorang muslim wajib mengetahuinya. Apabila seorang muslim sangat perhatian besar terhadap pembatal shalat, pembatal puasa, pembatal haji, pembatal umrah dan pembatal-pembatal ibadah yang lain. Maka seorang muslim hendaknya memiliki kekhawatiran yang lebih besar terhadap pembatal keislaman. Karena kita berada di zaman fitnah, sehingga bila dia terjatuh pada pembatal keislaman maka semua ibadah yang dia kerjakan akan terhapus.

Memasuki syarat ketujuh, yakni al-Qabul (sikap menerima). Sikap menerima ini lebih luas daripada sikap inqiyad. Orang yang menerima belum tentu patuh, sedangkan al-Qabul adalah harus. Dan tidak menerima konsekuensi ini, maka batal ucapan syahadatnya.

Allah Ta’ala berfirman, (artinya) “Tidaklah Kami utus sebelum kami Muhammad seorang juru peringatan yang datang ke sebuah kampung, kecuali gembong-gembong kekafiran mengatakan, “Ketahuilah kami mendapati kakek moyang kami dalam sebuah keyakinan. Dan kami adalah uang mengikuti jejak mereka. ”

Inilah alasan kaum musyrikin zaman dulu hingga zaman sekarang. Alangkah serupanya malam ini dengan malam kemarin …

Pembahasan kali ini masih berporos pada syarat-syarat Laa ilaaha illallah. Dan masuk kepada poin ke enam; al-inqiyad (wajibnya patuh, tunduk melaksanakan). Ini konsekuensi dari kalimat Laa ilaaha illallah.

Orang yang tidak tunduk, menunjukkan bahwasanya ia tidak jujur dalam mengucapkan Laa ilaaha illallah. Lawan dari tunduk ini adalah membangkang. Orang yang membangkang adalah orang yang tidak diterima kalimat Laa ilaaha illallah nya.

Cinta dan rahasia, ada apa dengannya? Apakah ada hubungannya dengan benci? Cinta dan benci dalam Islam dikenal dengan istilah wala wal bara. Sebuah kajian yang selayaknya dipublikasikan di zaman ini, agar izzah kaum muslimin kembali tampak!

Pembahasan al-Wajibat kali ini masih membahas seputar syarat laa ilaaha illallah. Memasuki syarat kelima; cinta, cinta yang meniadakan kebencian. Sedikit muraja’ah syarat-syarat yang lain:

A. Al-Ilmu (mengilmui), dalam menafikan dan menetapkan. Kebalikannya adalah al-Jahl (kebodohan).

B. Al-Yaqin (meyakini), kebalikannya adalah asy-Syak dan ar-Rayb (keraguan).

C. Al-Ikhlash (ikhlas), kebalikannya adalah asy-Syirku (syirik) dan ar-Riya’ (riya).

D. Ash-Shidqu (membenarkan), kebalikannya adalah al-Kadzabu (mendustakan).

E. Al-Mahabbah (mencintai), kebalikannya adalah al-Karhu (membenci).

F. Al-Inqiyadu (menaati), kebalikannya adalah at-Tarku (tidak taat).

G. Al-Qabulu (menerima), kebalikannya adalah ar-Raddu (menolak).

1 287 288 289 290 291 334