Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-8 ini kita akan membahas tentang sejumlah catatan mengenai pembagian bidah menurut aswaja.
Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.
Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,
ما أحدث في الدين من غير دليل
“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)
Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.
Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.
Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.
Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.
Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) saat Ramadhan tahun lalu.
Bagaimana bidah dalam Islam itu? Adakah bidah Islam? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, pembagian bidah menurut aswaja, bidah hasanah atau bidah mahmudah, contoh bidah, amalan bid’ah, ahlul bidah atau ahli bidah, dan masih banyak lagi.
Apa saja catatan mengenai pembagian bidah menurut aswaja tersebut?
Pembagian bid’ah menurut aswaja (asli wejangan Jawa, pinjam istilah singkatan dari salah seorang Kyai) ada dua bid’ah; hasanah dan bid’ah dalalah. Benarkah demikian? Bid’ah ibarat parasit dalam agama, sebagaimana salah satu pengertian yang terambil darinya “menyerupai agama dan dibuat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah”.
Bid’ah dalam Islam dinilai sesat (Bid’ah adalah sesat). Jadi, ini konteks hadits Nabi (hadits Bid’ah) yang kita pahami secara gamblang. Para pemerhati bahasa Arab, tentu memahami arti kullu dalam bahasa Arab. Dan perlu adanya penambahan dalam hal ini; asbabul wurud!
Khazanah Islam menyebutkan bahwa teori bid’ah itu sesat berasal dari Imam Ibnu Taimiyah. Padahal beliau termasuk ulama ahlussunnah wal jama’ah (ada yang menyingkatnya aswaja) yang Anti Bid’ah!. Selain beliau, terdapat pula Imam as-Syatibi; penyusun kitab al-I’tisham. Sebuah kitab fenomenal yang mengupas seluk beluk bid’ah secara mendalam. Apabila Anda cari … bid’ah cinta yang lagi ngehits itu, pasti tidak ketemu? Tapi bisa jadi, bid’ah dalam aqiqah masuk dalam kategori contoh pembahasan.
Bid’ah di Indonesia adakah dalilnya? Mari kita tonton videonya hingga tuntas, selamat menyimak!
Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-6 ini kita masih dalam pembahasan sudut pandang yang harus diperhatikan untuk menilai suatu amalan yang tergolong bid’ah.
Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.
Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,
ما أحدث في الدين من غير دليل
“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)
Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.
Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.
Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.
Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.
Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) saat Ramadhan tahun lalu.
Bagaimana bidah dalam Islam itu? Adakah bidah Islam? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, contoh bidah, amalan bid’ah, ahlul bidah atau ahli bidah, dan masih banyak lagi.
Apa saja sudut pandang yang harus diperhatikan untuk menilai suatu amalan yang tergolong bid’ah?
Bid’ah adalah lawan dari sunnah, di mana lahirnya bid’ah maka matilah satu sunnah. Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku. Banyak orang berdalih ada bid’ah mahmudah dan bid’ah dalalah. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa bid’ah ada dua macam. Bid’ah itu apa sih? Ada yang ngejawab: Bid’ah itu sesat … bid’ah itu tertolak … bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat … dan masih banyak lagi jawaban yang lainnya.
Tingkatan bid’ah itu bermacam-macam dari sisi yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam (muhrijah minal millah) dan ada juga yang tidak sampai separah itu. Adapun terkait bid’ah fi’liyah, lalu anggapan tentang bid’ah hasanah, maka butuh perincian / pendetailan. Sebab hukum terhadap sesuatu itu tergantung penggambarannya.
Kumpulan hadits tentang bid’ah? Adakah hadits tentang bidah dalam hadits Bukhari Muslim? Sudah tahu kumpulan hadits tentang bidah?
Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-4 ini kita akan membahas tentang seputar bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah serta contoh-contohnya.
Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.
Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,
ما أحدث في الدين من غير دليل
“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)
Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.
Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.
Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.
Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.
Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) saat Ramadhan tahun lalu.
Bagaimana bidah dalam Islam itu? Adakah bidah Islam? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, contoh bidah, amalan bid’ah, ahlul bidah atau ahli bidah, dan masih banyak lagi.
Apa sih bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah itu? Sudah tahu contoh-contoh dari bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah?
Kumpulan hadits tentang bid’ah? Adakah hadits tentang bidah dalam hadits Bukhari Muslim? Sudah tahu kumpulan hadits tentang bidah?
Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-4 ini kita akan membahas tentang seputar bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah serta contoh-contohnya.
Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.
Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,
ما أحدث في الدين من غير دليل
“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”.
(lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)
Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.
Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Hadits adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Kita akan mendapati kumpulan hadits yang shahih baik Hadits Bukhari maupun Hadits Muslim dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (Shahihain) karena kedua kitab hadits tersebut adalah kitab hadits yang paling shahih.
Saat ini telah ada Syarah Hadits Arbain Nawawi. Kitab tersebut merupakan penjelasan dari hadits Arbain Nawawi. Di antara ulama yang mensyarahkan hadits Arbain Nawawi yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Berikut penjelasan mengenai pengertian bidah dalam hadits riwayat Bukhari maupun hadits riwayat Muslim yang merupakan kumpulan hadits shahih.
Amalan bid’ah dalam agama itu tertolak. Dalam Hadits Bukhari Muslim diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan amalan baru (dalam syariat kami) yang mana amalan baru ini bukanlah bagian dari agama maka apa yang ia rekayasa tertolak.
Dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) saat Ramadhan tahun lalu.
Bagaimana bidah dalam Islam itu? Adakah bidah Islam? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bidah hasanah atau bidah mahmudah, contoh bidah, amalan bid’ah, ahlul bidah atau ahli bidah, dan masih banyak lagi.
Apa sih bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah itu? Sudah tahu contoh-contoh dari bidah idhafiyah dan bidah hakikiyah?
Kullu bid’ah dalalah (Setiap bid’ah adalah sesat) demikian bunyi hadits bid’ah yang sering kita dengar di mimbar-mimbar pengajian. Hadits Nabi yang menyatakan hal tersebut terdapat pula dalam riwayat Muslim yang menyebutkan, “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi ‘amruna wahuwa raddun.”
Bid’ah adalah sesuatu yang baru dalam agama dan batasan-batasannya ada di dalam kitab ini. Seseorang akan memahami bid’ah dengan baik manakala ia memahami asbabul wurud suatu hadits. Jadi, ia tidak serampangan saat beristidlal. Karena setiap bid’ah itu mempunyai dalil, bukan dalil pembenaran melainkan syubhat.
Macam-macam hadits ada hadits shahih, hasan, dan dha’if … minimal itu pembagian yang sederhana. Oleh karenanya, pentingnya memahami pembagian hadits, minimal sekarang ada kumpulan hadits shahih, yang mencerahkan kaum muslimin, khususnya kaum awamnya. Dan asal muasal bid’ah berawal dari hadits dho’if (hadits yang lemah). Bid’ah itu bukan sekedar berkutat pada penambahan lafadz sholawat Nabi; tahlil; sholat tasbih; doa awal tahun; dan yang semisalnya. Mari pelajari lebih lanut tentang bid’ah dalam video menarik berikut ini!
Bid’ah bagi sebagian orang adalah bahasan tabu, apalagi di zaman ini, hingga ada yang menyatakan, “Antum itu bid’ah dari ujung rambut sampai ujung kaki” (Subhanallah). Macam-macam bid’ah dan contohnya bukan barang baru bagi penuntut ilmu. Hal tersebut telah masyhur dalam pembahasan mereka. Sebut saja kita al-I’tishom dan selainnya yang memaparkan hal ini dengan gamblang (mulai dari pembahasan; yasinan; qunut; yasinan dan tahlilan; bid’ah baik; bid’ah aqidah; bid’ah adalah sesat; bid’ah haqiqiyah; bid’ah menurut imam mazhab; bid’ah ada dua; bid’ah ada dua macam; bid’ah terbagi 5; bid’ah lughawi; bid’ah finnar; bid’ah secara etimologi; bid’ah baik; bid’ah hasanah; dan yang semisalnya).
Bid’ah secara lughawi adalah mengada-ada sesuatu yang baru. Sedangkan bid’ah secara etimologi adalah Setiap hal yang diada-ada dalam agama Allah yang sama sekali tidak mempunyai landasan dalil, baik dalil yang umum ataupun yang khusus. (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah).
Bid’ah termasuk dosa besar… dewasa ini malah ada Bid’ah Cinta, sebuah movie yang bercerita tentang sepasang sejoli yang saling mencintai dan tidak memperdulikan masalah ‘”bid’ah”, dan kajian ini tentu saja tidak ada kaitannya dengan film tersebut. Sekedar informasi saja, bahwa Bid’ah bisa menjadi inspirasi dunia perfilman nusantara.
Dan pembahasan ini (Kitab Mi’yarul Bid’ah) meruapakan karya dari Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani hafizahullah. Mari kita simak pemaparan lebih lanjut tentang bid’ah, agar Anda paham dan tidak mudah tersulut emosi jika ada hal baru yang dikritisi. Dan juga akan menumbuhkan rasa lapang dada dalam memberikan udzur kepada saudara sesama muslim.
Syariat Islam mengenai bid’ah? Adakah bid’ah dalam syariat Islam? Bagaimana bid’ah dalam syariat Islam?
Pada Rambu-Rambu Bid’ah episode ke-2 ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang karakteristik atau hal yang khas dari bid’ah.
Apakah bid’ah termasuk dalam syariat Islam? Berikut mengenai pengertian syariat Islam.
“Syariat islam adalah semua aturan yang Allah turunkan untuk para hamba-Nya, baik terkait masalah aqidah, ibadah, muamalah, adab, maupun akhlak. Baik terkait hubungan makhluk dengan Allah, maupun hubungan antar-sesama makhluk”. (lihat Tarikh Tasyri’ al-Islami, Manna’ Qathan Hal. 13)
Saudaraku -semoga kita semua selalu mendapatkan taufik Allah-, sering kali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga sering kali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya.
Pakar Bahasa, al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bidah,
ما أحدث في الدين من غير دليل
“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil”. (lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 8, Syamilah)
Jika kita melakukan suatu amalan dan kita pikir amalan tersebut adalah amalan yang baik namun tidak memiliki dasar dalam Islam dan menyelisihi sunnah (menyelisihi amalan Rasulullah atau amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka amalan tersebut termasuk amalan yang tertolak dalam Islam.
Ketahuilah saudaraku -semoga Allah tambahkan hidayah untukmu- bahwasanya masih banyak amalan amalan dalam Islam yang ada dasarnya dan amalan setiap hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat kita lakukan untuk menjalankan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits tentang bidah yang paling populer penyebutannya berada dalam kitab Arba’in Nawawiyah (hadits ke-5). Para ulama ada yang membagi bid’ah (bidah terbagi lima dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) saat Ramadhan tahun lalu.
Bagaimana bidah dalam Islam itu? Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bidah; pengertian bidah, hadits tentang bidah, macam bidah, bid’ah mahmudah/hasanah, contoh bidah, amalan bid’ah, dan masih banyak lagi.
Bagaimana kiat agar amalan kita selalu menjadi amalan yang diterima Allah? Apa saja hal yang khas dari bid’ah? Yuk, simak selengkapnya dalam video berikut.
Bid’ah Hasanah bagi sebagian orang bernilai ibadah, bid’ah dalam Islam adalah berasal dari rusaknya pemahaman terhadap agama ini. Bid’ah itu apa?!? Bid’ah itu mematikan sunnah, dan bid’ah pada masa kini makin semarak, sebut saja acara ini dan itu … semuanya berdalil dengan Qur’an. Bagaimanakah definisi hukum bid’ah sebenarnya?
Hadits tentang bid’ah atau hadits bid’ah yang paling populer penyebutannya berada dalam kutaib Arba’in an-Nawawiyah (hadits ke-5). Bahkan lebih terkenal dari Bid’ah Cinta atau Bid’ah Cinta Full movie!!! Dan para ulama ada yang membagi bid’ah (bid’ah terbagi lima, dalam rangka memudahkan pemahaman penuntut ilmu, dan bukan dalam rangka menetapkan akan bolehnya).
Inilah Kitab Mi’yarul Bid’ah (Rambu-Rambu; vonis dan label Bid’ah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani. Buku ini termasuk lanjutan dari kitab sebelumnya (Qawa’id Ma’rifatil Bid’ah) —Ramadhan tahun lalu. Dalam kajian ini, Anda akan diajak untuk mengenal seluk beluk bid’ah; ahlul bid’ah wal jama’ah; bid’ah dholalah; bid’ah mahmudah, bid’ah fi’liyah, contoh bid’ah qouliyah i’tiqadiyah, perdebatan antara bid’ah versus sunnah, bid’ah baik, bid’ah yang dilarang, dan hal-hal terkait lainnya.