Mahabatullah (kecintaan kepada Allah) adalah asas dalam menghamba kepada Allah, di samping ia juga menyertakannya dengan khauf dan raja’. Simak pembahasan mahabbatullah dalam silsilah kajian kitab tauhid kali ini.
Mahabatullah (cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) semestinya menjadi prinsip nomor wahid bagi seorang muslim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at Taubah : 24]. Dalam firman-Nya yang lain, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
[Ali Imran : 31].
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Kitab legendaris ini telah memasuki pertemuan ke-21, setelah di awal bab, penyusun memaparkan secara gamblang tentang pengertian tauhid dan keutamaannya.
Adapun setelahnya ialah contoh-contoh yang menafikan (meniadakan) tauhid pada diri seseorang. Dengan kata lain, inilah contoh-contoh kesyirikan itu … di antaranya adalah perbuatan sihir yang dilakukan oleh dukun-dukun. Masuk di sini para peramal dengan ramalannya. Semacam zodiak dan semisalnya.
Dan pada akhir daurah, pemateri menyajikan tentang tathayyur (merasa bernasib sial). Contohnya, dengan angka 13. Hingga hotel-hotel atau lift menghilangkan angka tersebut. Mengapa bisa demikian?
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya”
(Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya
(Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Diriwayatkan dalam shahih Bukhori dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tentang gereja yang ia lihat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang didalamnya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah bersabda:
“أولئك إذا مات فيهم الرجل الصالح، أو العبد الصالح بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، أولئك شرار الخلق عند الله “.
”Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau hamba yang shalih meninggal, mereka membangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan mereka membuat didalamnya gambar-gambar, dan mereka sejelek-jelek makhluk disisi Allah”. Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk karena mereka melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah diatasnya dan fitnah membuat gambar-gambar ( patung-patung ).
Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah juga berkata : ketika Rasulullah akan diambil nyawanya, beliaupun segera menutup mukanya dengan kain, dan ketika nafasnya terasa sesak maka dibukanya kembali kain itu. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah beliau bersabda:
“لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد”
“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan Nasrani, yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat peribadatan”.
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
“Dan berilah peringatan dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Allah, agar mereka bertakwa”
(Surat al-An’am: 51)
“Katakanlah (hai Muhammad) : hanya milik Allah lah syafaat itu semuanya”
(Surat az-zumar: 44).
“Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizinNya”
(Surat al-Baqarah: 225).
“Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengiizinkan (untuk diberi syafaat) bagi siapa saja yang dikehendaki dan diridhoiNya”
(Surat an-Najm: 26)
“Katakanlah : “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tak memiliki kekuasaan seberat dzarrah (biji atum) pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagiNya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah diizinkaNya memperoleh syafaat itu …” (Surat Saba’: 22)
Syafa’atul musthofa (syafa’at Nabi) adalah yang dinanti-nanti kaum muslimin di hari penantian. Ceramah tauhid kali ini akan membahas syafa’at tersebut. Kitab tauhid untuk pemula yang sangat mudah penjelasannya di ambil dari buku kitab tauhid (buku tauhid) karya Syaikh Muhammad at-Tamimi.
Dalil tauhid dalam perkara akidah, akhlak, apa arti tauhid, bacaan tauhid, syafa’at anak sholeh, amalan ilmu laduni, arti tauhid alam Islam (apa arti tauhid jelaskan) dikupas tuntas dalam video kali ini). Alhamdulillah …
Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan oleh Allah bahwa syafaat ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana firmanNya : “Dan mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali kepada orang yang diridhoi Allah” (QS. Al Anbiya’, 28).
Syafa’at yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al qur’an.