Di manakah para Jin tinggal? Jin itu bermukim di atas bumi sebagaimana kita menetap. Di antara jin ada yang tinggal di bekas tempat reruntuhan, ada juga yang berdiam di tanah lapang atau padang sahara.
Begitu pula di antara mereka ada yang tinggal di tempat-tempat najis seperti kamar mandi, tempat pembuangan kotoran, dan kuburan. Di antaranya kamar mandi dilarang shalat karena di sana terdapat banyak najis, lalu jin senang berdiam di situ . Begitu pula di kuburan, dilarang pula shalat di tempat tersebut karena dapat mengantarkan pada kesyirikan.
(Faidah dari al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, salah seorang yang pernah berguru kepada pemateri video ini; al-Ustadz Aris Munandar)
Bisakah Syaithan dari kalangan Jin di siksa dengan api? Padahal mereka tercipta dari api.
Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil berkata, “Setan dan jin bisa disiksa dengan api sebagaimana manusia bisa disiksa dengan tanah. Intinya, asal dari manusia adalah tanah namun wujudnya saat ini bukanlah tanah secara hakiki. Demikian jin asalnya juga adalah api, bisa berlaku seperti itu.”
(Luqthul Marjan fii Ahkamil Jaan, hal. 33)
Supaya lebih gamblang, mari kita simak bersama video serial berikut ini!
Sobat Yufid Edu …
Setelah kemarin kita menjelaskan tentang asal usul jin, maka kali ini kita akan membahas bentuk dari jin. Apakah jin itu memiliki bentuk layaknya seperti manusia? Lalu bagaimanakah bentuk jin itu?
Yuk tonton video Misteri Alam Gaib: Tiga Bentuk Jin (Episode 2) – Ustadz Aris Munandar, M.P.I
Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk mengimani sesuatu yang ghaib. Dan diantara perkara gaib yang harus kita ketahui adalah adanya makhluk Allah ta’ala yang lain yakni Jin.
Kali ini kita akan memulai kajian perdana serial “Misteri Alam Gaib”. Tahukah Anda darimana jin diciptakan? Apakah jin diciptakan oleh Allah ta’ala dari api atau dari cahaya?
Yuk tonton video Misteri Alam Gaib: Asal Usul Jin bersama Ustadz Aris Munandar, M.P.I
Banyak kita jumpai , tetangga kanan-kiri kita yang belum begitu memaghami terkait bab takdir ini. Para ulama ada yang membagi menjadi 4:
1. al-Ilmu
2. al-Kitabah
3. Masyi’ah
4. al-Khalqu
Bagaimana uraiannya, simak secara tuntas dalam video yang menarik ini!
“Andaikata saya kaya maka tidak akan seperti ini nasibku?”
Apakah celotehan tersebut benar dalam timbangan syari’at?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.”
(HR. Muslim)
Hendaknya seseorang beradab kepada Rabb-Nya, jangan sampai ia berlebihan dalam berucap hingga menyebabkannya terjatuh ke dalam neraka.
Video ini sedikit membahas ‘dhamir muttasil’ dan laa nahiyah (Dari sisi Nahwu)
Larangan berucap, “Abdi wa Amati”
Simak kandungan faidah yang menarik dalam video ini
Perkataan Ulama Seputar Nama-Nama Allah Yang Husna:
Mengenal Allah Ta’ala dan mengilmui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya adalah cabang ilmu agama yang paling mulia. Karena yang menjadi pembahasan adalah Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Mulia. Mengharapkan wajah-Nya adalah puncak tujuan. Beribadah kepada-Nya adalah amal yang paling agung. Dan memuji Allah dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya adalah ucapan yang paling indah.
(Fiqh Asma’ul Husna, Syaikh ‘Abdurrazzaq Al Badr, hal 16 )
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan milik Allah, nama-nama yang husna” (QS. Al A’raaf : 180). Makna dari al Husna dalam ayat ini adalah Maha Indah yang mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada kekurangannya sedikitpun. Misalnya nama Al Hayyu, artinya Allah Maha Hidup dengan hidup yang sempurna, dan tidak akan binasa. Demikian pula kesempurnaan nama-nama Allah yang lain.
(Al Qowa’idul Mutsla, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin, hal 11, via buletin at-Tauhid/31/10/13).
Istihza’ atau mengolok-olok agama biasa dilakukan oleh orang kafir, lantas bagaimana bila yang melakukannya seorang muslim, yang demikian diakibatkan kurangnya pemahaman agama yang menyebar di masyarakat. Alhasil orang Islam tapi buta akan ajarannya sendiri.
Terkait istihza’, Allah berfirman:
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?
(Surat at-Taubah:65)
Tayangan Mahabarata sempat tenar di negeri yang mayoritasnya muslim ini. Dan sejatinya mereka telah kecolongan hal yang paling prinsipil yakni aqidah. Sebab bila telah rusak aqidah umat, maka mereka akan mudah dikuasai. Oleh karena itu, waspadalah!
Adapun pembahasan kitab Tauhid kali ini akan mengupas perihal larangan menyebut / memanggil manusia dengan lafadz ‘Raja Diraja’, sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya nama (gelar) yang paling hina di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah seseorang yang dinamakan atau digelari Raja Diraja, padahal tiada raja yang memiliki kekuasaan mutlak kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
(Riwayat Bukhari (Fath 10/6206) dalam al-Adab, dan Muslim (2143) dalam al-Adab)
Sufyan bin Uyainah mengemukakan contoh dengan berkata, “Seperti nama atau gelar Syahan Syah.”
Dan dalam riwayat yang lain dikatakan : “Dia adalah orang yang paling dimurkai di sisi Allah Subhanahu wata’ala pada hari kiamat dan yang paling buruknya.”
(Riwayat Ahmad dalam Musnadnya 2/315)