Mengenal Nabi dengan risalahnya adalah kebutuhan mutlak manusia. Dan mengetahui sejarah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menguatkan iman kita. Selama sepuluh tahun, beliau senantiasa mengajak umatnya kepada Tauhid.
Para Nabi dan Rasul ‘alaihimussallam mengusung tema dakwah yang sama yakni “U’budullah wa la tusyriku bihi syai’a.” (Sembahlah Allah dan jangan Anda mempersekutukannya dengan sesuatu apapun).
Tauhid bukanlah tema baru, bahkan ada yang memfitnahnya dengan tauhid trinitas, wallahul musta’an. Padahal semata-mata pembagian tauhid menjadi dua atau pun tiga, dalam rangka memudahkan pemahaman bagi objek dakwah.
Akhlaknya yang baik dikenal oleh kawan maupun lawan, hingga dikatakan, “Akhlaknya adalah al-Qur’an.” Dan ucapan beliau yang terkenal adalah, “Tidaklah aku diutus melainkan untuk memperbaiki akhlak.”
Sudahkah Anda mempelajari salah satu bab dari bab akhlak hari ini?
Mengenal Rasulullah sebagai pilar ketiga dalam pembahasan kita. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib al-Hasyimi al-Quraisy.
Syaikh Muhammad at-Tamimi mulai mengulas dari sisi ketinggian nasab beliau dan seterusnya.
Faidah apa yang dapat kita petik dari mempelajari sirah nabawiyah?
Simak video yang satu ini!
Sudahkah Anda mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Nabi terakhir dan tidak ada Nabi lagi sesudahnya. Hal klasik yang telah kita ketahui bersama yaitu Perbedaan Nabi dan Rasul. Perbedaan dalam hal risalahnya. Apakah disampaikan kepada manusia atau tidak?
Inilah kitab yang membahas tentang Islam, syariat Islam, arti Islam yang sebenarnya, rukun islam, rukun iman, dan hal-hal yang terkait dengannya. Dalam buku-buku kisah orang terdahulu, banyak kita dapati cerita hidayah nyata yang menyapa seorang non muslim, sungguh menggugah kisahnya. Oleh karena itu bersyukurlah kita yang beragama Islam sedari kecil.
Sesungguhnya tanpa risalah, jiwa kita akan kering dan mati, tanpa risalah; akal kita bagai mata tanpa cahaya, dan tanpa risalah; hidup kita akan kering kerontang!
Cara mengendalikan hawa nafsu bagaimanakah caranya? Hadits tentang memerangi hawa nafsu menyebutkan bahwa hawa nafsu akan tunduk kepada ilmu agama. Oleh karena itu, semakin seorang itu faqih, maka ia makin dekat dengan pencipta-Nya.
Kedudukan akal dan wahyu, keduanya bukanlah permisalan yang sebanding. Akan tetapi kewajiban akal ialah menerima wahyu sebagaimana datangnya. Bahaya mengikuti hawa nafsu bisa muncul dari bab ini yakni memperturutkan akal daripada wahyu.
Sungguh kita berada di zaman di mana kepongahan akal merajalela, seakan-akan dengan akalnya sama sekali tidak membutuhkan Rasulullah,. Mereka singkirkan syariat sejauh-jauhnya. Semoga kita dijauhkan dari sifat demikian.
Ihsan ada dua rukunnya sebagaimana masyhur dalam hadits Jibril. Ihsan kepada makhluk Allah artinya mencurahkan kebaikan yang kita punya kepadanya. Inilah risalah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.
Kajian kita kali ini membahas tentang pengertian ihsan, perintah berlaku ihsan, contoh ihsan, dalil tentang ihsan, perbedaan iman islam dan ihsan, hadits tentang ihsan, dan ihsan dalam Islam. Macam-macam Ihsan. Ihsan ada dua: pertama, Ihsan kepada Allah, dan kedua, Ihsan kepada makhluk. Allah dan Rasul-Nya mengajarkan untuk berbuat ihsan kepada makhluk-makhluk-Nya. Sungguh, sangat indah apa yang dimisalkan oleh Rasulullah, yakni beliau memisalkan seorang muslim dengan pohon Kurma dan seekor Lebah. Artinya, pribadi seorang muslim adalah pribadi yang senantiasa memberikan manfaat kepada orang lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)
Ihsan adalah kualitas agama yang paling tinggi. Apa yang dimaksud dengan ihsan dan ada berapa rukun ihsan?
Rasulullah bersabda (hadits Jibril / hadits arba’in ke-2): Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Berbuat ihsan merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah, sebagaimana hadits, ” Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan pada segala sesuatu …”
Ahlussunnah wal jama’ah tidak berbeda dalam mendefinisikan iman. Rukun iman itu ada enam. Apabila salah satu rukun iman ini tidak ada maka iman seseorang bisa batal.
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (Surat al-Baqarah: 177)
Dan hadits Jibril yang masyhur,
Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim)
Iman merupakan martabat yang kedua, dan tingkatannya lebih tinggi dari Islam. Seandainya Islam adalah hal-hal dari penampakan zhahir. Sedangkan Iman termasuk perhiasan batin.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)