Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Ustadz Aris Munandar kali ini kembali membahas kitab tentang cara sholat Nabi. Ilmu ini begitu penting hingga sangat berharga untuk diulang-ulang. Seseorang yang meremehkan ilmu, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tersebut.
Dampak fitnah yang paling buruk adalah berkuasanya musuh-musuh Islam atasnya. Mereka tidak takut lagi, bahkan cenderung mengeroyok. Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak lama lagi umat-umat lain akan saling menyeru untuk mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampan (berisi hidangan makanan)“. Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah dikarenakan jumlah kita sedikit kala itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (tidak memiliki iman yang kokoh) seperti buih air bah, sungguh (pada saat itu) Allah akan menghilangkan rasa takut/gentar terhadap kalian dari jiwa musuh-musuh kalian dan Dia akan menimpakan (penyakit) al wahnu ke dalam hati kalian.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (penyakit) al wahnu itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta (kepada perhiasan) dunia dan benci (terhadap) kematian.“
(HR Abu Dawud (no. 4297), Ahmad (5/278) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahihah” (no. 958))
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن، إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن، إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن -يُرَدِّدُهَا ثَلاث مَرَّات- وَلِمَن ابْتَلَى فَصَبْر فَوَاهاً
“Orang yang paling bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai fitnah. Orang yang paling bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai fitnah. Orang yang paling bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai fitnah. (Beliau ﷺ mengulanginya 3X) Barangsiapa yang diuji dengan berbagai fitnah dan dia bersabar maka sungguh mengagumkan.”
Akhir yang memilukan tidak akan terjadi manakala kita mengikuti perkataan para ulama. Namun, jika kita bertindak sendiri, maka lihatlah … mereka berada di ujung tanduk (sebentar lagi binasa).
Kasus terindah dan paling mulia dan paling gamblang adalah apa yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah takala beliau menjadi contoh dan teladan memperaktekan sunnah dalam bermu’amalah dengan penguasa. Di zaman beliau, pemerintahan ditegakan di atas salah satu mazhab yang jelek bahkan bid’ah yang menyesatkan yaitu perkataan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk, manusia dipaksa dengan ancaman pedang sehingga banyak darah ulama yang tertumpah karenanya dan dijadikan kurikulum untuk anak-anak ketika baru mulai belajar menulis (semacam TK) sehingga timbullah malapetaka dan bencana-bencana. Tetapi Imam Ahmad tidak disenjatakan oleh hawa nafsunya bahkan beliau tetap teguh di atas sunnah karena sunnah itu lebih baik dan lebih memberi petunjuk.
Imam Hanbal bin Ishaq berkata : “Datang sekelompok dari ahli fiqih Baghdad kepda Abu Abdillah (Imam Ahmad,–pent.) di antara mereka Bakr bin Abdillah, Ibrahim bin Ali, Fadhl bin ‘Ashim dan lain-lain mereka minta untuk masuk menemui beliau, maka saya mengizinkan mereka, lalu merekapun masuk. Mereka berkata : “Ya Abu Abdillah sesungguhnya perkara ini telah menyebar dan memuncak dan orang ini (Al-Watsiq Billah penguasa waktu itu,–pent.) berbuat ini dan itu, sesungguhnya telah nampak apa yang dia nampakkan dan kami takut dari padanya yang lebih dari ini”. Dan mereka menyebut bahwasanya Ibnu Abi Du’ad (salah seorang Qadhi pada waktu itu) telah memerintahkan para guru untuk mengajarkan kepada anak-anak dalam menulis bahwa Al-Qur`an itu begini dan begitu.
Imam Abu Abdillah berkata : “Apa yang kalian inginkan ?”.
Mereka menjawab : “Kami mendatangimu untuk bermusyawarah pada apa-apa yang kami inginkan”.
Imam Ahmad berkata : “Apa yang kalian inginkan ?”.
Mereka menjawab : “Kami tidak ridho dengan kepemimpinan dan kekuasannya (Al-Watsiq,–pent)”.
Maka Abu Abdillah memandang mereka sesaat kemudian berkata kepada mereka -dan saya hadir (Hanbal Bin Ishaq,–pent.):
“Tidakkah kalian ketahui jika perkara ini tidak tetap bagi kalian bukankah kalian akan menjalani hal-hal yang di benci (tidak diinginkan) ?, wajib bagi kalian mengingkari dengan hati-hati kalian dan janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan, janganlah kalian memecah persatuan kaum muslimin, janganlah kalian mengalirkan darah-darah kalian dan darah kaum mislimin bersama kalian. Renungkanlah oleh kalian akibat yang akan timbul dari apa yang kalian lakukan dan janganlah kalian tergesa-gesa, bersabarlah kalian sampai orang baik istrahat (tentram) dan diselamatkan dari orang fajir. Lalu beliau berkata : Hal ini (keluar dari ketaatan,–pent.) bukanlah suatu kebaikan bahkan ini adalah tidakan yang menyelisihi atsar (hadits).”
(Lihat : Mihnatu Al-Imam Ahmad bin Hambal karya Hambal bin Ishaq hal 70-71 dan As-Sunnah oleh Al-Khallal 1/133-134 via majalah an-nashihah/pustaka as-Sunnah, Baji Rupa, Makasar)
Zaman terus berganti, dan sekarang ini serba terbalik! Orang amanah dikatakan tidak jujur, dan orang yang suka berdusta dikatakan benar. Sungguh menggila memang, namun itu kenyataannya … Banyak orang bodoh yang mengaku berilmu. Fenomena ini sudah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berabad silam.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”
(HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
Dampak Buruk Fitnah sangat banyak di antaranya, para ulama dilecehkan. Inilah dialog yang terjadi antara Hasan al-Bashri dengan pembela Ibnul Ats Ats,
Dari Sulaiman bin Ali ar-Rab’i ia berkata, “Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats yang hendak meemrangi al-Hajjaj, pergilah Uqbah bin Abdil Ghafir, Abul Jauza, dan Abdullah bin Ghlalib untuk menemui al-Hasan dan meminta fatwa kepada beliau. Mereka memerangi seorang thaghut ini (al-Hajjaj bin Yusuf, pen.) yang telah menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan merampas harta yang haram untuk dirampas, telah meninggalkan shalat, dan telah melakukan ini dan itu…’ (Mereka menyebutkan semua tindak-tanduk dari al-Hajjaj bin Yusuf). Lalu al-Hasan berkata, ‘Namun, aku berpendapat kalian jangan memeranginya. Karena kalaulah ia adalah suatu hukuman untuk kalian, maka sekali-kali kalian tidak akan mampu menolak hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pedang-pedang kalian, namun bila ia adalah musibah dan ujian untuk kalian, maka bersabarlah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum kepada kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik yang memutuskan hukum.’ Namun, mereka tidak menggubris perkataan al-Hasan bahkan mengatakan, ‘Apakah kita akan menaati perkataan keledai liar itu..!? (Hajaj)’ Mereka pun tetap nekad keluar bersama Ibnu Asy’ats hingga akhirnya mereka terbunuh semua.”