Serial Kitab Tauhid Eps 68: Bab 65 – Menjadikan Allah Sebagai Perantara – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Pembagian tauhid yang populer di tengah ulama ialah tauhid yang tiga (Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhyah, dan Tauhid Asma wa Shifat), yang demikian berdasarkan penelitian terhadap sejumlah nash dan bukan terbilang muhdats dalam bab agama. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam peribadahan. Kali ini, Kitab Tauhid menyajikan sebuah kisah seorang Badui yang kurang adab terhadap Allah. Yang mana ia minta kepada Allah untuk menjadi wasaith / perantara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jelas, hal tersebut terbalik.

Pembahasan perantara ini dikenal dengan nama bab tawasul. Tawasul adalah meminta perantara kepada seseorang yang dinilai mampu untuk membantu. Terkait bacaan tawasul sederhana yang banyak dicari orang, nyatanya tidak ada nash khusus yang menyebutkannya. Kajian inipun, memaparkan dalil tauhid Rububiyah dan fungsui tauhid dalam menimbang tawasul ini. Ayat AlQuran tentang tawasul ini menyebutkan bahwa kedudukan orang yang dimintai sama halnya dengan yang meminta; mereka sama-sama membutuhkan Allah dan kelak di akhirat, orang dijadikan wasilah mengingkari orang yang menjadikannya wasilah. Dengan istilah yang masyhur; menjadi perantara antara hamba dengan Allah.

Cara kembali kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan; Allah Maha Besar, tidak layak dijadikan perantara. Hal inilah yang ingin diajarkan Rasulullah berupa adab kepada Allah yang tercermin dalam akhlak Rasulullah. Rasulullah meminta syafaat kepada Allah dan bukan dimintai syafaat, sebagaimana salah kaprah ini sudah terlampau ma’ruf. Syafaat adalah memberikan pertolongan dengan kedudukan. Contoh doa syafaat ada dalam buku Hisnul Muslim atau buku doa sejenis.

Dalam video ini, kita diajak untuk menyelami metode dakwah Rasulullah; dakwah penuh hikmah terhadap orang yang keliru dalam meminta. Lalu Rasulullah meluruskan bahwa berdoa kepada Allah semata dan memahamkan tentang wasialh yang benar dalam bahasan tawasul dan doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *