Pelaku Bidah Sulit Bertaubat! – Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra

Hadits tentang bidah menyatakan bahwa bidah lebih jelek daripada maksiat, jika pelaku maksiat masih mengakui bahwa dirinya dalam kesalahan, sedangkan pelaku bidah merasa di atas kebenaran. Oleh karena itu, pelaku bidah sulit bertaubat! Inilah yang tengah kita bahas dalam kajian kitab Fadhul Islam karya Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah.

Bidah adalah Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Apabila ada yang bertanya, “Tolong sebutkan contoh bidah satu saja?” Maka kita jawab, “Seseorang yang menambah atau mengurangi amalan tertentu yang sudah paten aturannya. Misal: Sebelum adzan, ada seseorang yang memberi mukadimah berupa shalawat Nabi dengan Jahriyah, lalu mengucapkan dua kalimah Syahadat, baru kemudian beradzan.

Di antara ciri ciri orang bid’ah (berbuat bidah) ialah ia tidak suka dengan sunnah Rasul yang tampak seperti memelihara jenggot, merapatkan shaf saat shalat berjamaah, poligami, dan lain sebagainya dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang bersembunyi di balik tameng bid’ah hasanah. Bidah hasanah adalah bidah yang baik karena ada sumber muasalnya, menurut mereka. PADAHAL Rasulullah mengingkari mereka dengan sabdanya, “Setiap bid’ah adalah sesat.” Atau dengan kata lain, setiap bid’ah dholalah.

Ahli bid ah berbeda dengan Ahli Sunnah, khususnya dalam bermuamalah kepada Allah (yakni ibadah). Lihat saja keduanya dalam bab sunnah dan bid ah. Manakah di antara keduanya yang mengagungkan sunnah dan meninggalkan bidah? Bagi yang menjalankan sunnah, sungguh ia lebih dekat kepada taqwa dan jalan kebenaran.

Dalam kajian umum ini disinggung tentang taubat; taubat nasuha yang hampir-hampir tidak menyambangi para pelaku bidah. Cara taubat nasuha akan terealisasi manakala pelakunya meyakini bahwa ia melakukan dosa. Maka bagaimana jika seseorang yang menganggap dirinya benar, akankah ia akan bertaubat? Kalla Tsumma Kalla (Sekali-kali Tidak) Kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. Sebab hanya Allah yang Maha Membolak-Balikkan hati manusia.

Ibadah adalah amalan seseorang untuk mendekatkan kepada Allah Ta’ala. Ada di sana ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah dalam ISLAM kembali kepada dalil, apa yang ada dalilnya, maka dilaksanakan, dan apa yang tidak ada, maka kewajiban kita berhenti. Dan di antara syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas dan ittiba. Pengertian ikhlas telah maklum kita pahami. Ikhlas dalam Islam menempati posisi pertama dalam setiap pembahasan suatu kajian penting.

Masuk di sini pembahasan hukum taqlid yang dilakukan banyak pelaku bidah. Apakah mereka (para pelaku bidah) tidak menyadari akan suatu hari di padang Mahsyar ada syafaat berupa telaga Rasulullah. Banyak umat beliau yang dihalau darinya karena perbuatan bidahnya dan sebagian lagi mampu untuk meminumnya. Itulah buah ittiba. Ittiba adalah mengikuti Rasulullah dalam keyakinan, istiqrar, dan amal perbuatan. Adapun mengikuti hal adat kebiasaan (jibliyah), para ulama berbeda pendapat.

Last but not least (terakhir tapi bukan yang akhir) … Wahai saudaraku, marilah kita kembali kepada Allah, kembali kepada AlQuran dan Sunnah dan berusaha meninggalkan bidah sekuat tenaga. Insya Allah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *