Kitab Ushulus Sunnah Imam Ahmad, Eps. 05 – Ustadz Dr. Sufyan Baswedan

Ulil amri adalah seorang yang memimpin manusia dalam sebuah negara yang sah, bukan bayangan apalagi bawah tanah. Inilah sekelumit pesan penting seputar pengertian taat dalam Islam yang disalah artikan oleh sebagian pihak yang terkungkung dalam syubhat “La Hukmu illa lillah.” Mari menelisik sejenak sejarah zaman jahiliyah, kala zaman Islam belum datang, masa kesuraman yang mana mereka menjadikan salah satu hukumnya yaitu tidak taat kepada pemerintah. Sungguh, alangkah serupanya malam ini dengan malam kemarin (dari sisi kemaksiatan; tidak mau menaati pemerintah)!

Mari kita simak hadits tentang pemimpin secara khusus dan rincian atas contoh pemimpin zalim yang banyak diklaim oleh Fulan dan Alan itu. Benarkah mereka memahami dengan detail pengertian umara yang berlandaskan dalil?!? Mari kita urai kembali hukum taat kepada ulil amri yang telah ditulis dalam kitab-kitab seputar I’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah, di antaranya kitab Ushulus Sunnah ini. Ketahuilah wahai saudaraku se-Islam bahwa memberontak dalam Islam adalah haram! Ustadz Sufyan Baswedan hafizahullah memahamkan para hadirin tentang makna taat kepada pemimpin ditambah penjelasan singkat seputar pengertian saling menasehati dalam Islam.

Taat kepada Allah sebagai bentuk keimanan seorang muslim yang bertauhid. Hal ini disarikan dari pengertian taat kepada Allah yang banyak dijumpai dalam nash Al-Qur’an, “Aatii’ullah .” Dan contoh taat kepada Rasul ialah dengan mentaati Allah, contoh: taat kepada pemimpin berdasarkan hadits yang berbunyi, “Taatilah pemimpin, meskipun mereka memukul punggungmu, mintalah hakmu kepada Allah.” Dan uraian Ushulus Sunnah episode ke-5 ini sebagai bentuk nasehat untuk pemimpin di manapun negeri mereka berada, sebab berbilangnya kepemimpinan dalam suatu negeri tidaklah mengapa, ungkapan ini sebagaimana dihaturkan dalam untaian mutiara faidah yang disusun oleh Syaikh Jamal bin Furaihan Al Haritsi.

Masih dalam episode yang sama, penting untuk dibahas bersama terkait syarat taubat yang harus dipenuhi dan memaparkan suguhan terbaik berupa hadits tentang niat ikhlas, “Innamal a’malu binniyat.” Hal ini selaras dengan makna ittiba. Ittiba adalah mengikuti Rasulullah dalam beragama, cinta Rasul yang Ori ialah dengan mengikuti sunnahnya. No sunnah, no cinta (baca: tidak mau mengamalkan sunnah, jangan berkata engkau telah cinta padanya). Setuju ya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *