Hushulul Ma’muul fi Syarhi Tsalatsatil Ushul, Eps. 04 – Ustadz Aris Munandar

Inilah poin penting yang coba diunggah oleh pemateri terkait mauqif iman di sisi Ahlussunnah dan di sisi Ahlul bidah. Bagaimana Ahlussunnah memandang makna iman (antara imannya pelaku maksiat, imannya pelaku bidah, dan dari sisi taqdir –pemateri banyak mengambil faidah dari uraian Syaikh Ibnu Utsaimin dalam bab ini). Juga, dijelaskan macam macam dosa; apakah itu dosa besar maupun dosa kecil. Dan dipertajam dengan ayat AlQuran tentang maksiat, sungguh, penjelasan yang begitu ilmiah.

Bidah adalah ajaran baru dalam agama Islam, sekalipun ada yang menganggapnya sebagai bidah hasanah. Banyak orang terjatuh ke dalamnya, disebabkan kurang bisa membedakan makna secara bahasa dan secara istilah. Terkait pembahasan orang yang menyimpang dari sisi taqdir, maka mereka adalah orang yang patut dikasihani karena ia telah terjerumus ke dalam suatu penyimpangan. Dan setiap hamba meyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Tidaklah Allah menzalimi hamba-Nya, hamba-lah yang akan ditanya, bukan Allah! Dengan keadilan-Nya takdir-Nya berjalan. Apakah ada perbedaan takdir dan nasib? Atau hanya beda istilah saja? Takdir manusia telah diciptakan 5.000 tahun sebelum penciptaannya, semua mengandungi hikmah bagi kaum yang mau memikirkan. Dan pembahasan ini ma’ruf dalam bab takdir.

Setelah menjelaskan tentang penyimpangan manusia, pemateri mengambil sampel dalam bab ini yakni tentang sejarah khawarij (kemunculannya); bagaimana seorang ahli AlQuran membunuh Utsman bin Affan? Dan berikut hadits tentang Khawarij turut dipaparkan, guna melengkapi faidah. Dalam bab iman ada yang namanya pasang surut keimanan atau dalam kalimat lain disebut sebab bertambah dan berkurangnya iman; iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Apakah orang fasik dikategorikan sebagai orang beriman? Arti fasik dan munafik berbeda, sebab yang satu (fasiq) melakukannya karena atas dasar kecerobohannya, sedangkan yang munafiq (mereka berpura-pura dalam mengerjakannya untuk menipu Allah dan kaum muslimin, sedangkan Allah Maha sebaik-baik pembalas Makar).

Memasuki pembahasan setelahnya yakni agama Ibrahim (Millata Ibrahima Hanifa) atau dengan kata pencarian millah Ibrahim seri materi Tauhid; di sini diungkap tentang agama para Nabi ialah agama yang satu yakni Islam; mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Adapun yang populer dengan penyatuan tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) sama sekali tidak pernah dikenal sebelumnya. Artinya penyimpulan tersebut berdasarkan rekaan belaka.

Topik terakhir yang coba dibahas pemateri adalah barangsiapa yang ikhlas dan mencari wajah Allah, maka baginya Surga. Melihat wajah Allah di Surga termasuk impian tertinggi setiap mukmin dan hal tersebut menjadi hijab bagi para ahlul bidah. Menapaki makna keikhlasan (makna ikhlas dalam hidup) yang terurai manis pada dalil tentang ikhlas, maka izinkanlah kami berbagi faidah kepada Anda yang tertuang dalam kitab Hushulul Ma’mul Fi Syarhi Tsalasatil Ushul yang disampaikan oleh Al-Ustadz Al-Fadhil Aris Munandar hafizahullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *