Bersatulah dan Jangan Berpecah-Belah (Masail Jahiliyah, Eps. 28) – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Persatuan islam adalah suatu nikmat yang sangat didambakan setiap muslim. Perselisihan umat islam dan perpecahan umat islam hanya dapat dihindari dengan berpegang teguh pada tali allah, berpegang teguh pada sunnah, dan mengikuti sunnah khulafaur rasyidin. Hal ini selaras dengan hadits tentang persatuan dan persaudaraan yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).”

Dalam surat ali imran ayat 103 Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” ( qs ali imran 103 )

Dua dalil tersebut merupakan bukti larangan berpecah belah ( saling berbangga dengan kelompok sendiri ) dan keharusan persatuan islam dalam agama yang hak. Persatuan yang sesungguhnya, bukan persatuan semu layaknya kaum yahudi ( lihat tafsir surat al hasyr ayat 14 ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *