Bercerai Berai dalam Beragama (Masail Jahiliyah, Eps. 03) – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Zaman jahiliyah adalah zaman di mana kemerosotan moral melanda dan syiar-syiar agama dinodai dengan kesyirikan. Zaman di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diutus. (baca: zaman jahiliyah sebelum kedatangan Islam)

Mengamati sejarah zaman jahiliyah dapat kita simpulkan bahwa mereka telah berjumpa dengan sebagian orang-orang shalih yang masih memegang agama Tauhid, yakni agamanya para Nabi, di atas millah Ibrahim. Kita bisa menyaksikan adanya ritual haji, berqurban, hanya saja prakteknya sudah terkontaminasi dengan nilai-nilai kesyirikan.

Salah satu yang khas ada pada mereka yaitu bercerai berai dalam agama. Padahal disebutkan dalam agama ini untuk berpegang teguhlah pada Tali Allah. Juga, disinggung dalam hadits tentang larangan bercerai berai dan hadits tentang persatuan dan persaudaraan.

Larangan mengikuti hawa nafsu, bukan semata anjuran, melainkan tuntutan bagi seorang yang ingin menambah ketaatannya. Anda bisa memeriksa hadits tentang memerangi hawa nafsu. Hawa adalah bermakna dua; perempuan pertama yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Dan yang kedua hawa bermakna keinginan. Dan keinginan biasanya memerintahkan kepada hal yang negatif, sebagaimana Nabi Yusuf berlindung darinya.

Agama Nabi Adam adalah tauhid, demikianpula Nuh, Idris, dan seluruh Nabi dan Rasul yang lain, mereka mendakwahkan beribadahlah kepada Allah dan menjauhi kesyirikan.

Perbedaaan pendapat dalam Islam, masih ada rujukannya, sedangkan perbedaan pendapat di masa jahiliyah bisa menghilangkan nyawa yakni dengan adanya pertengkaran yang berujung kepada peperangan.

Memperhatikan ayat AlQuran tentang perselisihan , maka di dalamnya terdapat hasungan untuk kembali kepada AlQuran dan Sunnah jika terjadi silang pendapat. Demikianpula saat Anda jumpai hadits tentang ibadah (baca: fikih), tentunya akan menjumpai perselisihan pendapat.

Mengapa kita perlu untuk kembali kepada rujukan di atas? sebab berdasarkan pengertian Al Quran dan Hadits —keduanya merupakan sumber otentik umat Islam— Maka bagaimana seseorang akan bertaqwa, manakala ia berpaling dari keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *