4 Kaidah Mengenal Kesyirikan (Sesi 4) – Ustadz Abu Isa
Syafaat adalah perantaraan. Inilah kelanjutan 4 Kaidah Mengenal Kesyirikan yang sempat tayang di chanel Yufid TV dan kali ini Ustadz Abu Isa hafizahullah kembali membahasnya. Syafaat artinya pertolongan pihak ketiga kepada pihak yang membutuhkannya dalam rangka memberikan suatu manfaat atau menolak suatu mudharat. Dan bentuk syafaat ada banyak, di antaranya syafaat Al Quran yang khusus bagi Ahlul Quran sewaktu di dunia berhias dengannya (membaca dan mentadaburinya), ada pula syafaat Nabi, bagi mereka yang ittiba sewaktu di dunia, serta syafaat Al Quran di alam kubur.
Pembahasan seperti ini membutuhkan keimanan, iman kepada Nabi dan Rasul yang membawa risalah hingga ke tangan manusia; ada mereka yang beriman dan ada mereka yang enggan. Tauhid adalah intisari dakwah para Nabi dan Rasul. Penyebutan macam macam tauhid menjadi tiga adalah berdasarkan penelitian sebagaimana diungkap oleh Syaikh Nu’man Al Watr dalam kitabnya Tuhfatul Murid. Materi tauhid akan menjadi kokoh bagi seseorang manakala ia terus mendalaminya. Adanya pertanyaan tentang tauhid akan mengasah ketajaman berpikirnya. Memahami ruang lingkup tauhid akan bermanfaat bagi seorang ahli tauhid.
Saat masuk kepada pembahasan tauhid rububiyah, tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah di dalam peribadatan. Seorang akan mudah memahami siapakah mereka yang disebut musyrik dan siapa pula yang pantas disebut muwahid. Musyrik adalah pelaku kemusyrikan baik ia ada di zaman dahulu maupuh zaman sekarang, meski ada yang merubah namanya, jika hakekatnya sama, maka akan diketahui dengan mudah. Bahaya syirik bagi kehidupan seorang muslim sangat perlu untuk diantisipasi (bahasa lainnya: sangat urgen!) Karena banyak pelaku kesyirikan berdalih dengan melestarikan kepercayaan nenek moyang, akhirnya mereka terjatuh dan jatuh.
Banyak yang tidak menyadari saat ziarah kubur mulai menjamur, maka mari kita berkaca pada hukum ziarah kubur menurut Islam yang mana pada dasarnya hanya untuk mengingat mati, lalu berubah menjadi tren berupa wisata religi. Jika hanya ingat mati, maka bisa dilakukan di pemakaman mana saja, tanpa harus mengkhususkannya dengan rihlah yang sangat dipersiapkan kepergiannya. Bukankah ini menyelisihi agama para Nabi dan Rasul yang mereka menjauhkan umat dari syirik akbar dan melakukan upaya preventif dari menanggulangi syirik kecil dan memberantas ajaran nenek moyang yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam, utamanya pembahasan syafa’at di sisi mereka (musyrikin) yang berbeda dengan pemahaman syafa’at di sisi kaum muslimin.
Leave a Reply