Serial Kitab Tauhid Eps. 43: Bab 41 – Kufur Nikmat – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Kufur nikmat bukan perkara remeh yang diabaikan begitu saja. Kufur nikmat adalah mengingkari kenikmatan (mengingkari nikmat Allah) yang hakikatnya berasal dari Allah dan ia palingkan kepada selain Allah. Inilah pengertian kufur dalam aqidah tauhid. Apabila kita cermati hadits kufur nikmat maka terdapat dalil kufur nikmat yang sedemikian terangnya.

Anda bisa memperhatikan ciri-ciri orang kufur nikmat pada ayat kauniyahnya (seperti orang yang melarung sesaji ke lautan dalam rangka syukur nikmat), itulah contoh kufur yang teramat nyata. Akan tetapi dikaburkan maknanya oleh sebagian pihak yang berkepentingan dengan ritual kesyirikan tersebut.

Mari kita telaah lagi pengertian syukur, syukur adalah menerima dan meyakini datangnya nikmat dari Allah semata; apakah itu nikmat Iman, nikmat sehat, nikmat harta, dan lain sebagainya. Manfaat bersyukur yang paling kentara ialah Allah Ta’ala janjikan bertambahnya nikmat bagi hamba-Nya yang terus menerus bersyukur (sebagaimana tertuang dalam ayat tentang syukur nikmat), selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Nikmat Allah begitu banyaknya, tapi mengapa banyak orang yang mengkufurinya?

Ajukan pertanyaan tentang kufur kepada mereka yang membelokkan makna kesyukuran, tentu mereka akan menjawab dengan syubhat klasik yang terjadi di masa lampau. Apakah mereka telah melakukan syukur nikmat dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah? Dan inilah pengertian syirik, tapi sayang banyak yang belum mengerti.

Ada banyak contoh bersyukur dalam kehidupan sehari-hari (seperti: bangun untuk shalat Shubuh, bekerja, belajar, dst). Dan cara bersyukur atas nikmat Allah adalah dengan menggunakan anggota badan kita untuk memaksimalkan ketaatan (seperti shalat, sedekah, puasa, berhaji, membayar zakat, dan amal-amal kebaikan lainnya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *